Tampilkan postingan dengan label Tiket. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tiket. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Maret 2016

Yuk Sama-Sama Belajar Membuat Judul Yang Menarik








Salah satu skill yang dibutuhkan ngeblog adalah : membuat judul yang menarik. 

Ini gak bisa instan, perlu repitisi berulang-ulang, perlu latihan yang seksama agar ia menjadi tomatis (bahasa madura dari otomatis).

So, latihan adalah kuncinya. Dan ane pun juga belajar bagaimana membuat judul yang menarik pembaca sehingga mereka rela untuk mengeklik artikel yang sudah ane bikin.

Oke, let's study. Kalo masalah belajar, masalahnya adalah metode yang digunakan.

Ane memakai ATM (Awasi, Tiru, Modifikasi)

Lho, copy paste kalo begitu? What ever, dibilang copy paste ya gak papa, yang penting judulnya menarik. Hehehe...

Oke, kita coba lihat judul-judul yang menarik, siapa tahu Anda bisa memodifikasi judul-judul ini. Cekidot.

5 Sumber Pemasukan Blogger






Ngeblog bisa menghasilkan uang?

Ya jelas...Mirip sekali dengan televisi...

Temen ane pernah bilang, ngeblog itu tak ubahnya punya televisi. Kalo rating naik, ada banyak penonton, disitu iklan siap menyerbu.

Begitu juga dengan blog...Blogger menyediakan acara yang menarik, lalu orang datang untuk melihatnya.

Nah, sampeyan bisa masang iklan disitu.

Apa saja sih yang bisa jadi sumber pendapatan seorang blogger?

Distribusi Yang Membutuhkan Transportasi





Delivery kawan...

Memainkan peranan penting buat harga yang sampai ke tangan konsumen...

Perpindahan barang dan manusia dari satu tempat ke tempat lainnya adalah bisnis yang menggiurkan lho...

Okelah, semua orang pada membahas kesuksesan gojek...Dan lagi-lagi, transportasi...

Indonesia ini bagaimana? Ane setuju dengan pandangan Mbah Habibie yang mengutip dari Ir Soekarno ; bahwa negara kepulauan membutuhkan transportasi Udara.

Makanya ane berharap jika Regio Prop 80 bisa mengudara dengan smooth, maka Indonesia menjadi salah satu pemain penting dalam bisnis transportasi udara.

Kawasan Pasar Turi Yang Mahal







Tempat berkumpulnya manusia...

Tempat dimana orang-orang mencari kebutuhan pakaian, mesin, sparepart mesin, hingga transportasi...

Dimana manusia berkumpul, disitu tercipta kebutuhan...

Yup,,,saat kebutuhan (baca permintaan) ada, disitu ada lumbung pasar yang potensial...

Itulah mengapa kawasan pasar turi surabaya jadi mahal...harga sewa ruko di depan jalan semarang aja harganya sampai 175juta setahun...

Selasa, 16 September 2014

Satu Hal Ini Akan Membantu Anda Melahirkan Konten Original


Apa yang bikin rumah berasa "nyaman"? Jawabannya macam-macam. Tapi TiketLia jamin 100% bahwa kepemilikan atas nama pribadi adalah poin terbesar yang membuat orang nyaman tinggal di rumah.

Bisa Anda bayangkan kalo rumah itu masih rumah milik orang tua, masih ngontrak, ngekos, atau milik saudara.Rasanya gak enak banget.  Perasaan sungkan, malu-malu kucing, dll sering menghampiri. (Kecuali bagi Anda yang sudah putus urat malunya kali ya, :) )

Orang yang sudah merasa sesuatu itu rumahnya sendiri, otomatis akan terasa nyaman. Orang yang sudah punya rumah sendiri itu merdeka, gak takut sama mertua, keluar dari kamar mandi ke kamar tidur tanpa sehelai kain pun juga silahkan, di petak rumah itulah kemerdekaan seseorang di dapatkan.

Dalam blogging, kadang kala, kita lupa bahwa blog kita adalah rumah kita sendiri. Seperti layaknya rumah sendiri, ia kudu dirawat, dicintai, di percantik agar orang yang berkunjung gak merasa bosan.


Jumat, 12 September 2014

Mencontoh M Assad Yuk, Dari Qatar Menuju Perusahaan Internasional


Judul diatas panjang sekali sepanjang semangat TiketLia untuk mencontoh M. Assad. Ada yang beluk kenal M. Assad? Kalo belum, Sampeyan bisa browsing siapa dia. Assad adalah orang Indonesia yang melejit lewat buku A Note From Qatar. Menyelesaikan pendidikan S1 di University of Technology Petronas, ia melanjutkan studi S2-nya di Qatar Faculty of Islamic Studies. Hmmm...Kayaknya melihat pendidikannya super ngeri ya...tinggi-tinggi gitu. Oke, langsung aja ke bahasan bagaimana dia memulai bisnisnya.

Let's talk directly tentang passion dia. Dalam wawancara yang dilakukan oleh swa, Assad mengaku bahwa passionnya adalah pengelolaan keuangan. Apapun yang hubungannya sama duit, dia suka. (Siapa yang gak suka? Hahahaha) But, eniwei dia langsung take action dengan mendirikan perusahaan pengelola keuangan bernama Rayyan Capital. Nah, dengan lembaganya itu, dia mendapatkan kepercayaan untuk mengelola dana yang diinvestasikan dalam bidang tertentu.

TL coba korek-korek informasi berdasarkan keterangan dari beberapa sumber internet tentang perjalanan dia membangun bisnis. Siapa tahu ada yang bisa dicontoh atau setidaknya memberi pandangan dan semangat baru dalam mengembangkan usaha Anda saat ini.

Qutote 1 : "Mencari informasi di internet". Siapa yang sering ngaplo di depan internet dan blank riwa-riwi dari facebook ke twitter, trus ke path, trus ke facebook lagi sampek lupa waktu? Kalo iya, kita tiru aja si Assad yang getol mencari informasi terbaru untuk dijadikan sebuah konsep bisnis di Indonesia.


Senin, 08 September 2014

5 Alasan Mengapa Tiket Menjadi Bisnis Menggiurkan 5 Tahun Ke Depan



Kita bukan mengada-ada. Beberapa faktor penting mengindikasikan hal itu. Sebelum terlambat, lebih baik mempersiapkan diri dengan serius untuk menyambut era baru dalam dunia transportasi dan pariwisata Indonesia.

Kenapa Judul diatas begitu provokatif? Setidaknya ada beberapa catatan TiketLia (TL) yang layak dibuat bahan pertimbangan bahwa judul diatas adalah benar adanya. Berikut lima catatan penting itu :

1. Populasi kelas menengah dan meningkatnya pendapatan masyarat dalam beberapa tahun terakhir ini memicu pola konsumsi dari barang-barang yang dianggap sekunder menjadi gaya hidup. Travelling contohnya. Kegiatan yang satu ini sudah menjadi kebutuhan lazim terutama bagi kelas menengah.


6 Pelajaran Penting Dari Travel Agent Sukses


Kita sedang mencari model bagaimana bisnis ini dijalankan. Peran model ini penting untuk bahan inspirasi dan pencapaian yang akan ditempuh oleh sebuah perusahaan. Model juga menjadi "jalan pintas" untuk mengintip apa saja yang sudah dilakukan oleh sebuah perusahaan. Mengawasi sepak terjang perusahaan lain ini akan membawa pada konsep baru dan program baru untuk bersaing memperebutkan pasar.

TiketLia lalu browsing kesana-kemari mencari startup bisnis tiket. Alhasil TL menemukan beberapa perusahaan tiket yang berkembang pesat. Kemajuan dalam bisnis ini tentu mengispirasi TL untuk mengambil beberapa langkah mereka guna TL terapkan dalam mengembangkan TL ke depan.

Adalah Tiket.com yang berdiri pada awal Desember 2011 dan berkembang pesat menjadi perusahaan tiket yang diperhitungkan. Perusahaan ini tidak hanya menjual tiket pesawat, tapi sudah mencakup segala kebutuhan travel dan intertainmet.


Belajar Dari Ridwal Kamil Untuk Bisnis Tiket


Walikota Bandung Ridwan Kamil banyak menuai pujian terkait dengan cara-caranya membawa Bandung untuk maju. Baru-baru ini dia meletakkan grand plan untuk Bandung. Pilihan kemana Bandung akan terlabuh adalah : kota yang berorietasi pengembangan SDM. Berita selanjutkan bisa Anda cek disini.


Bagi TiketLia, apa yang dilakukan oleh Ridwal Kamil bisa diterapkan dalam bisnis tiket. Di tengah ketatnya persaingan, beberapa tips yang sudah dijalankan Emil bisa dipake untuk kemajuan bisnis tiket Anda.


Minggu, 07 September 2014

Kunci Marketing Tiket : KREATIFITAS

Bisnis tiket adalah bisnis yang penuh dengan kreatifitas. Kenapa bisa dikatakan demikan? Jawabannya mudah, selain persaingan yang ketat, pun juga porsi kuenya diperebutkan banyak pihak, termasuk pihak penerbit tiket itu sendiri ; maskapai penerbangan.




Pihak maskapai yang coba menguasai bisnis ini dari hulu sampai hilir terlihat dari kesanggupan mereka untuk membuka kanal pemesanan tiket secara langsung ke maskapai. Cara ini memudahkan pelanggan untuk langsung memesan tiket tanpa adanya pihak perantara. Pelanggan bisa langsung ke website maskapai, dan memesan langung tiket yang dibutuhkan.

Sebagai pebisnis travel, pilihan maskapai tersebut adalah sebuah tantangan. Bukan berat, tapi tantangan yang kudu di buktikan dengan penjualan besar. Untuk menghadapi hal ini, tidak bisa lagi digunakan rencana dan action plan biasa-biasa saja.


Sabtu, 30 Agustus 2014

Gak Papa Norak Asal Jujur

Mungkin sampeyan-sampeyan yang berkunjung di web gratisan ini akan langsung bilang : Norak! Isinya jualan melulu...Hehehehhe...Belum apa-apa sudah promosi duluan. Tuh liat logo tiket liat yang membumbung tinggi di header blogspot gratisan. 

Anda benar, ane pilih apa adanya ketimbang harus "munafik" tapi ujung-ujungnya hanya jualan. Ane gak mau seperti itu. Biarlah nanti pelanggan sendiri yang menilai. Saya lebih baik jelas diawal daripada nanti mengiba-iba dengan merusak konten blog ane sendiri. 

Sedari awal ane niatkan blog ini untuk jadi media komuniasi dan mengenalkan tiket lia --usaha ane bro-- ke khalayak ramai. Banyak sekali agen travel sejenis yang juga rame-rame menjadikan web sebagai bahan promosi. Dan ane adalah salah satunya. 

Makanya kalo Anda bilang bahwa ane norak isinya jualan melulu ya ane gak salahkan. Silahkan saja wong memang kenyataannya begitu. Dan ane lebih senang jujur-jujuran begitu daripada ane nggembol udang di balik celana dalam ane yang nanti pada jurang kementokan kudu ane tunjukkan kepada pembaca. Ane gak mau, lebih baik mereka tahu sejak awal ketimbang kecewa di belakang.

Penggunaan web ini sebenarnya ane terlambat. Mengutip kata Mas Jaya Setiabudi bahwa dia juga menyesal kenapa kok barusan kenal internet sekarang untuk memasivekan penjualan dan promosinya, ane juga demikian. Bedanya, Mas Jaya Setiabudi sudah jadi pemimpin bisnis kawakan, sedangkan ane masih merangkak macam bayi yang belajar ngesot. It's okay...ane jadikan dia panutan.

Lalu jadilah ane blogger. Menyempatkan diri untuk menulis apa saja dan ane update secara berkala di blog. Untung-untung ada pembaca yang tahu tiketlia, dan sewakut-waktu kalo dia butuh bantuan untuk mengurus masalah perjalanan dan tiket, bisa langsung kontak ane .

Ini adalah bentuk iktiyar mas bro. Metode untuk mengenalkan banyak sekali. Ane juga gak lupa untuk mengenalkan usaha ane ini offline dengan menyebar kartu nama dan memperbanyak persahabatan. Ya, siapa tahu ada yang nyantol. Nah, ketika nyantol itulah ane akan tunjukkan kinerja ane untuk memuaskan pelanggan.

Pada titik ini, ane menyiapkan diri berjuang habis-habisan ; mengupdate blog, mengenalkan usaha ane ke banyak orang, memuaskan pelanggan dengan pelayanan 101%, dst. Ane manusia yang diberi Tuhan otak untuk berpikir, badan normal untuk bertindak, dan hati untuk berdoa. Untuk mengungkapkan perasaan ane, izinkan ane kutip perkataan Dahlan Iskan dalam bukunya ganti hati :

"Saya tahu kapan harus ngotot dan kapan harus sumeleh. Keluarga saya yang amat miskin dan menganut tasawuf Sathariyah sudah mengajarkan sejak awal tentang sangkan paraning dumadi (darimana dan akan kemana hidup dan semua kejadian). Ini membuat saya akan ngotot melakukan apa pun untuk berhasil, tapi juga tahu batas kapan harus berakhir."

Sekarang usaha saya untuk mengenalkan tiketlia kepada banyak orang sedang saya lalukan. Ane pun ngotot melakukan apa saja. Nasehat macam apa saja ane lakukan untuk meletakkan satu kalimat di otak pembaca bahwa tiketlia itu ada. 

Usaha macam apa saja itu termasuk : menjalin koneksi dengan hotel-hotel, menjalin koneksi dengan agen di lombok dan bali, mengupdate blog secara berkala, menulis dan menggali ide, dan di ujung ikhtiyar ini saya hanya berdoa lirih : "Tuhan, terserah engkau ae lah! Kalopun berhasil yang berhasilah, kalau pun usaha ini gagal ya gagalkanlah! Selesai" . Setelah doa itu, tiba-tiba saya lega sekali. Maknyus dan Plong rasanya.

Kecanduan Malas : Awas Terhadap Pikiran Menjadi Sempurna

Kemaren malem ane denger radio. Gak sengaja nyentuk channel di hape jadul yang emang ada fitur radionya itu. Hape butut itu ane tempelin headset, eh iseng pencet radio dan berfungsi dengan baik. So, ane denger baik-baik. Channelnya juga kebetulan channel Suara Surabaya. Hmm...biasanya sih, ane denger channel ini pas lagi di mobil untuk mengupdate dan memantau apa saja yang terjadi dalam perjalanan. 

Segmentasi radio Suara Surabaya sangat spesifik. Dia fokus pada pendengar yang ada ada di jalan. Namnaya kota besar kayak surabaya, mana ada sih orang yang gak ada di mobil. Pengguna mobil juga berjibel sehingga penyediaan informasi terhadap mereka pun mutlak sebagai pasar yang pasti. Orang naik mobil pasti denger SS. Nah, pas lulus dari kuliah, ane ada ide untuk membuat sistem informasi kampus, temennya kakak ane disuruh untuk promosi ke SS yang menurut dia ; meskipun mahal tapi cespleng. 

Tapi bahasan kali ini bukan untuk mengomentari radionya kawan. Radio is fine, tapi apa yang ane denger kemaren malam sungguh membuat ane malu. Disitu ada seorang pendenger di telpon yang bicara bahwa kalo dia jalan di mall, semua buah rata-rata import. Padahal negara kita ini khan tanahnya subur, kenapa ndak bisa produksi buah macam begitu?

Apakah sudah saking malasnya ane sampai tanam buah-buahan bagus pun ndak bisa? Atau jangan-jangan karena biaya produknya mahal sehingga banyak orang malas untuk tanam jenis buah seperti itu? Yang jelas, celotehan dari pembaca kemaren menyimpulkan dua makna : kesempatan pun juga keprihatinan.

Sebagai anak muda yang getol bisnis, ane memandangnya sebagai sebuah kesempatan. Kesempatan bahwa ada yang bisa dilakukan untuk memenuhi pasar lokal sendiri. Dan bidang tersebut emang sesuai dengan yang ane suka : agrobisnis. Lha kenapa tidak dikondisikan dengan segera?

Dari buku Mengatur HIdup Dan Merancang Masa Depan karya Marwah Dauh Ibrahim yang dulu ane baca selepas lulus pesantren, ternyata masih banyak potensi yang menganggur di Republik ini. Pandangan tersebut bisa benar pun juga bisa salah. Atau karena faktor ketidahtahuan yang menjadikan tidak banyak orang tahu akan sebuah potensi. Bukan hanya sarjana menganggur, tap juga tanah nganggur, udara nganggur, sungai nganggur yang tinggal menunggu SDM-nya saja untuk kreatif agar menghasilkan secara ekonomis.

Ups--ini lagi bahas apa sih kok gak ada hubungannya sama tiket--hehehehe...ndak masalah. Ini adalah sebuah renungan untuk diri ane pribadi setelah mendengar celotehan pendengar SS kemaren. Ini macam jadi pecut bagi ane yang jangankan ngatur keluarga, ngatur diri sendiri saja masih susah. Kemajuan emang bukan milik orang malas. Titik.

Termasuk saat mengupdate blog ini. Ane pastikan tidak ada satu alasan pun untuk mengelak bahwa blog tidak terupdate. Itu adalah sebuah dosa bagi seorang blogger macam ane. Jika blog ini jadi rumah tua yang banyak sawang, laba-laba, dan tampak angker, itu kesalahan ada di ane yang gak kreatif untuk mengungkap sebuah sisi dalam sebuah tulisan. 

Sudah tidak ada alasan, dan alasan bagi sebuah kesuksesan adalah naif. Kenapa? Karena ada orang dengan beribu satu macam kendala tapi bisa sukses, pun juga ada orang yang dengan minimnya kendala malah terjerembab dalam lembah kemalasan. (ane termasuk yang kedua..hehehehe)

Ane contohnya real saja. Sebagai blogger ane khan kudu menyajikan tulisan. Target ane lima tulisan seminggu, gak banyak-banyak lah. Ane ngukur kecepatan menulis ane, ane ukur daya kreatif ane, dan angka 5 tulisan seminggu itu bukan hal yang mustahil. Oke ukuran diri sudah di dapat. 

Ukuran berikutnya adalah infrastruktur kata orang-orang pemerintahan. Hal yang tergolong dalam jenis ini adalah : ada tidaknya internet, biaya internet, laptop atau komputer, dst. Ane sendiri sudah alhamdulillah bisa update blog lewat smartphone yang ane konekin ke keyboard bluetooth. Ane rasa cukup. 

Lalu disitu timbul masalah : gimana masalah sumbernya? Enakan pake laptop supaya kerjanya enak? Koneksi internetnya yang kenceng dong supaya enak kalo update dst...Pikiran-pikiran seperti itu akan muncul secara tiba-tiba dalam berbagai macam variasi. 

Kata buku-buku motivasi kayak gini : Jangan nunggu sempurna untuk memulai. Nah itu...PIkiran-pikiran seperti itu yang nota bene dirasa benar masuk logika, tapi sebenarnya menimbulkan jebakan untuk "menunggu" hingga keadaan sempurna. Tak ada yang salah dengan itu semua, bahkan itu mendukung, tapi kalo emang pikiran seperti itu menghambat kinerja ane sebagai blogger, maka bisa ane kategorikan bahwa pikiran semacam itu adalah "perampas kesuksesan ane".

Nauzubillah kalo pikiran semacam itu membuat ane akhirnya banyak alasan dan menimbulkan kemalasan. Dan memang biasaya seperti itu. Menunggu sempurna dan terus menunggu sampai akhirnya ada orang yang dengan segala keterbatasan bisa menciptakan karya yang aduhai (luar baisa ane ganti sama aduhai suapaya gak kayak bahasa MLM).

Dulu ane juga pernah baca kalo ada penulis indonesia yang hanya bermodalkan mesin ketik saja bisa bikin novel. Wow....sekarang khan eranya kompi mas broooo....malah lebih enak, lha kok kalah dengan yang pake mesin ketik? Itu adalah tamparan dahsat. Pipi ane sampek merah-merah merenungi hal tersebut.

Nah, cukup sampai disini, silahkan bertanya pada diri masing-masing : adakah zat heroin dalam bentuk menunggu kesempurnaan itu pada diri Anda? Silahkan komeng di bawah ya.

Jumat, 29 Agustus 2014

Langganan Internet First Media

Ane jadi tertarik untuk ikutan langganan internet bulanan milik First Media. Ini bukan ikut-ikutan lho, tapi lebih didasari pada kebutuhan. 

Banyak lingkungan ane ikutan First Media, karena selain lancar, itung-itungannya juga murah. Dua kombinasi ini yang membuat ane juga buka demi memenuhi kebutuhan ngeblog.

Diri ane sekarang telah ane tetapkan untuk jadi dua sekaligus (moga-moga aja bisa) : blogger dan pengusaha. Untuk urusan usaha, semetnara yang ane fokuskan tentu travel doang. Demi mewujudkan agar orang-orang pada mampir di blog ini, ane kudu peras otak supaya menyajikan hal-hal menarik supaya semut-semut itu pada datang. 

Kenak diabet kali ya? hahahaha..ndak-ndak kawan Intinya ane butuh ngenet dan terlebih lagi, ngenet  yang sesaui dengan budget di kantong. 

Selama ini pengerjaan blog travelia ane shiftkan. Artinya ane kerjakan paruh waktu. Jadi mulai pagi ane kerja nyales, dan masuk sore hari, ane kumpulin materi-materi yang bisa ditulis, lalu ane kerjakan beberapa suapaya jadi tulisan yang bermutu. Untuk itulah ane butuh internet juga di rumah supaya kontinuitas dan waktu untuk upadate blog jadi makin terbuka.

Eniwei, itu saja ceritanya. Nanti kapan-kapan disambung lagi. Ciao...

Meniru Gotong Royong Dari Etnis Tionghoa

Teman, ada ungkapan "bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh." Persatuan dan kesatuan itu wujudna bagaimana? saya kok masih penasaran bagaimaan mengejawantahkan pesatuan dan kesatuan dalam lini kehidupan.


Kapitalisme yang secara subyektif ane katakan : sudah mendarah daging dalam sumsum tulang belakang kita saat ini, membuat siapa saja bisa bercerai. Gak peduli suami-istri apalagi hanya sekedar teman. 


Untuk menilai wujud pesatuan dan kesatuan, baiknya ane cerita perjalanan temen ane yang sekarnag buka toko galangan bermodalkan 100 juta saja. Bagaimaan bisa? bisa...


Jadi dia dulu buka koter service hape di daerah tengah kota jombang. Usahanya mantap sih, banyak customer. Dia pake sistem bagi hasil dengan semua yang nyervis di tempatnya. Tapi kayaknya usahanya sekarang lagi seret. Ia pun ngaku akan menutup tempat itu dan pindah ke bisnis lainnya.


Teman ane itu adlaah orang tionghoa. Ayahnya adalah tukang jual mie yang terkenal enak di jombang. Sang ayang mendidik dengan keras bahwa kalo ada orang mau tahu--keepo-- dengan apa yang kita lakukan, jangan pelit ilmu. Berita tahu apa yang pengen mereka tahu. 


Nasehat sang ayag itu terbukti. Banyak sekali pegawai ayahnya yang sekarng buka warung mie sendiri dan sukses. Mensukseskan orang lain dengan memberi mereka kail adalah sebuah kepuasan tersendiri.


Pindah bahasan ke temen ane ini. Jadi dia buka toko galangan dengan modal 100 juta. Lho kok bisa? Ya bisa, jadi ternyata si temen ane tersebut hanya buka toko saja, sedangkan supply barang didapatkan dari teman-teman sesama etnis tionghoa yang berani supply ke situ. Beres!


###


Bentuk persatuan dan kesatuan minoritas itulah yang layak ditiru. Memang dulu kita masih jaman penjajah, orang-orang yang pengen merdeka seakan adalah orang minoritas. Para founding fathers itu rela untuk mengorbankan apa saja demi kebersamaan.


Dan kebersaama saat ini teruangkap dari cerita temen ane diatas. Itulah makanya kenapa minoritas tatkala bangkrut cepet lagi bangkitnya. Jawabannya pun Anda tahu, bahwa mereka menerapkan prinsip membantu sesama komunitas agar makmur bersama.


Sudahkah semangat itu ada dalam diri kita? Atau jangan-jangan sudah tabiat kita untuk tidak senang melihat orang lain senang dan senang melihat orang lain sedang kesusahan? 


Salam...

Menulis Sambil Berbisnis

Ane mendefenisikan pekerjaan ane dalam dua hal : menulis blog dan memproduksi barang. Emang jurnalistik bukanlah pekerjaan ane, tapi sejak dulu di pesantren, ane ikutan mading pondok yang ane dalemin selama 8 tahun. Disitu ane jadi wartawan gadungan yang coba-coba melatih mental dengan mewawancari orang lain lalu menulis bereita darinya. Beriita hasil ketikan kita saat itu diprint, dan ditempelkan dalam mading yang terletak di jantung pondok kami tercinta.


Dari situlah ane bisa mengetik di keybaord dengan kecepatan yang sempurna. Kalo ada orang mau tes-tesan nulis di keyboard, bolehlah saya ikutan lomba dengan dia, siapa yang paling cepat untuk mengetik selembar. Dan kebiasaan ini pulalah yagn menjerumuskan ane untuk mengetaik langsung dan menulis apa saja ; dari buku harian, blog, blog teman, dkk. Dunia menulis menjadi kebiasaan harian sejak saat itu.


Hingga detik ini, menulis pun menjadi bagian hidup saya. Saya emang bukan seorang penulis. Kalo Anda baca tulisan-tulisan saya, lebih banyak tulisan-tulisan yang bergaya standar. Sastranya tidak ada karena eman daya pikri saya untuk menciptakaan kata-kata baru tidak melekat sama sekali. Ane lebih suka menulis dengan gaya apa adanya. Macam orang ngomong ngalor-ngidul, ya semacam itu. 


Jadilah ane menawarkan diri untuk membatu publikasi teman-teman sekitar. Misalkan saat ini ada tiga teman yang saya tawarkan untuk membesarkan blog mereka. Saya dengan senang hati akan menulis rutin di tiga blog itu agar usaha mereka bisa dikenal dan akhirnya berkembang. Masalah nanti berkembang atau tidak, saya pun tidak tahu, yang saya tahu adalah : saya menulis di blog mereka.


Emang kenyataannya saya sekarang bekerja sebagai sales mesin hidraulik. Itupun atas bantuan teman yang kebetulan kenal dengan yang punya perusahaan. Saya mengiyakan tawaran itu, karena kebutuhan bulanan menuntut untuk mencari uang. Jadilah saya bergaji 2,5 jt perbulan. Sudah satu setengah bulan saya kerja disini, gaji peretama saya terima dengan senang hati. Saya buat bayar vespa 500 ribu dan sisanya amblas untuk memperbaiki vespa. 


Saya memang penggemar vespa, dan ini adalah vespa pertama yang saya beli dengan cicilan. Vespa PX 150 tahun 1979 milik kakak teman yang memasukkan saya di perusahaan swasta ini.


Awalnya saya coba cicil itu barang selama lima bulan, tapi entah karena satu dua sebab, yang punya sepeda minta dicash-i bulan ini. Saya yang kadung cinta sasma vespa itu dan sudah mengeluarkan gaji pertama untuk merombaknya, harus degnan sumeleh merelakan gaji kedua nanti untuk membayar sisa uang vespa tersebut.


Tapi tak mengapa,,,toh juga vespa sudah di tangan. Kalo lain hari ndak ada duit, ya gimana lagi, kudu ane jual. Tapi bukan vespa itu fokus saya. Vespa ini adalah hobi, dan yup, benar hobi, saya pun kudu membatasi disitu. 


Pikiran saya adalah bagaimana saya bisa memnulis dan berbisnis dalam satu waktu? Saya suka sekali dengan bisnis, sudah banyak bisnis yang saya lakukan dan semuanya gagal. Kini, saya sudah tekad bulat untuk merambah satu jenis usaha ; makanan ternak. Dan why not? Sumberdaya ada, tenaga ada, kemampuan ada, tinggal ekskusi saja.


Pikiran saya pun gak muluk-muluk. Gak mikirin pemsaran dahulu. Yang teprenting sekarang adalah : bagaimana produk atas nama pribadi saya itu bisa jadi. TItik!


Produk ini wajib. Wajib 'Ain kalo hukum fiqihnya. Ndak ada toleransi kalo ndak bisa terwujud. Niatan menjadi pengusaha sekelas Bob Sadino, Sandiaga Uno, Jaya Setiabudi, dkk sudah ada di ubun-ubun. (Kok terlalu melip sihi..astagfirulloh) interupsi-interupsi. Mereka adalah panutan asya dan biarkan saya mengikuti jejak mereka, untung-untung kalo ditakdirkan seperti mereka. Hehehehehe....


Saya jalani apa adanya aja deh...Target pertama: Produk hasil karya ane jadi. Itulah target pertama  yang kudu ane laksanakan dalam 2 bulan.


Lebih dari itu? Ndak tahu....Tapi saya punya bayangan seperti ini :


-Menulis blog dan mengupdatenya dengan cerita perjalanan membangun bisnis ane dari awal.


-Menulis apa saja  yang berkaitan dengan dunia yang ane tekuni.


Indah sekali. Saya dapat dua hobi sekaligus : berbisnis dan menulis. Bisa saya rangkum jadi satu. Ah, memang inilah yang saya pengeni. Inilah yang saya pengen nikmati.


Cukup samapi disini dulu, nanti diupdate lagi. Thanks


Lha Terus Ane Kudu Gimana Gan?

"Harus mengajukan perimntaan apa kepada Tuhan? Bukankah manusia cenderung mnta apa saja kepada Tuhan sehingga terkesan dia sendiri malas berusaha? Saya tidak mau Tuhan mengejek saya sebagai orang yang bisanya hanya berdoa. Saya tidak mau Tuhan mengatakan kepada saya : Untuk apa kamu saya beri otak kalau sedikit-sedikit masih juga minta kepada-Ku?" Dahlan Iskan(Ganti Hati)


Kutipan dari Dahlan Iskan diatas sengaja ane cantumkan untuk mengusik diri ane sendiri. Bahwa, segala sesutu juga kudu dilakukan dengan kemampuan diri sendiri, tidak hanya dengan doa-doa- dan doa melulu.


Ane bukan menafikan doa, apalagi ana adalah orang yang percaya keberdaan Tuhan. Tapi kadang ane menempatkan porsi tidak pada tempatnya, ane kadang bingung dan menyalhakan apa yang kudu disalahkan. Menyalahkan keadaan, menyalahkan situasi dan kondisi, dan menyalahkan siapapun yang kudu ane salahkan. Padahal sebenarnya tidak ada yang salah, yang salah adalah diri ane sendiri.


Orang seperti ane tidak sadar akan kemampuan diri ane sendiri. Okelah, sekarang Anda bisa menyimak kalo sebenarnya ane suka menulis, nah itu kemampuan. Tapi ane gak sadar akan hal itu. Di lain pihak, ane semacam punya semangat marketing tinggi, suka door to door untuk memasarkan barang orang lain. Lalu mengapa ane gak ciptakan barang sendiri yang bisa dijual sendiri dan di menej sendiri?


Keberanian untuk mengakui kemampuan seperti itu adlaah kelemahan. Ujunng-ujungnya adalah hilangnya kesadaran bahwa sebenarna ada banyak kemampuan pada diri ane. Dan itu kawan, uniknya, setiap manusia PASTI punya kelebihan berbeda-beda. Cuman masalahnya pandangan mata, hati dan kesadaran seringkali kabur untuk menilai bagaimana sebenanya diri kita masing-masing.


Saat pandangan kabur seperti itulah, ane sendiri butuh cermin untuk berkontemplasi. Cermin itu bisa dari diri sendiri, bisa juga dari kritik orang lain, bisa juga dari sebuah kejadian  yang menggugah kesadaran. Cermin itu banyak sekali, tinggal pintar-pintar kita saja untuk berhenti sejenak, menelaah kembali, dan mengambil hikmah darinya.


Dan bagi ane, cermin itu datang malam hari kemaren. Saat ane dicuci habis-habisan oleh teman. Dia tidak mengkritik saya, dia menceritakan dirinya sendiri dan dari kritikannya itulah ane dapat sesuatu yang menggugah, sesuatu yang membuat ane bangkit untuk pertama kalinya.


Kemaren malam adalah tonggak pertama saya menjadi berani. Tangguh untuk mengambil resiko. Dan resiko itu bernama : kebangkrutan.


Dari sini, ane dapat sesautu, apa itu? Untuk menjadi seorang yang sukses, kudu mengambil langkah berani. KIta pun tak tahu, apakah langkah itu benar atau salah toh kejadian setelahnya kita juga tidak akan pernah tahu. Tapi keputusan untuk mengambil langkah tertentu adalah sebuah bentuk usaha pribadi untuk mengadu nasib dan menjalani takdir.


Apakah takdir saya akan bangkrut? Who knows, atau malah akan berhasil? Who knows too...Semuanya masih menjadi rahasia. Yang bisa saya sediakan adalah : keterampilan untuk mengelola diri menjadi berhasil. Kalo pun sudah dikelola dan gak berhasil, itu urusan lain, berarti takdir menyuruh saya untuk sumeleh dalam sebuah bidang yang saya tekuni.


Singkat kata, insiprasi kemaren malam adalah : membuat produk sendiri. Inilah yang kudu ane lakukan dengan segera. Bahwa produk yang mumpuni dan yang ane ketahui cara pembuatnanya dari A-Z hingga distribusinya ada di tangan saya. Ini adalah cikal bakal menjadi seorang pengusaha. Sukses atau gagal saya ndak tahu. Saya hanya akan menjalankan hal-hal yang "kiranya" membuat saya sukses.


Produk itu bernama pakan ternak. Dan kawan, inilah hal yang saya kerja sekarang. Mula-mula saya mendata, apakah ada sumberdaya yang bisa saya gunakan? Otak lalu bilang ; ada! Ane punya pick up, punya sebidang tanah untuk menumpuk barang dijadikan gudang. TInggal sekarang mencari rumput, jerami, dan biang bakterinya saja.


Kedua, ane juga mencanangkan untuk membeli mesin penggiling jerami yang harganya 3 jtua rupiah. Itu setara dengan gaji ane sebulan setengah bekerja sebagai sales. Ndak papa, toh itu juga merupakan investasi nyata.


Target ane pun gak muluk-muluk. Simple saja. Ane belum berpikiran untuik mengembangkan usaha ini jadi seperti PT Wonokoyo, Cheil Jeddang, Charoen Phokphand atau apalah, ane hanya simple saja dalam target. 


Kalo sampeyan tahu target ane, menghitung seluruh pengeluaran untuk setiap detail pupuk yang dihasilkan sekarung beserta alat-alatnya, dan mengembalikan modal dengan menjual pakan ternak tersebut. 


Yup, target ane adalah : BEP dahulu. Itu saja, dan itulah target ane satu-satunya sekarang. Mengitung biaya produksi, plus biaya pemsaran, plus juga biaya trasport dkk lalu mengembalikan itu semua sudah membuat saya menajdi puas.


Hal utama dari pembelajaran kemaren adalah : keberanian untuk menciptakan produk sendiri. Sebagai seorang usahawan, produk ini penting. Karena denganya kita mengais pundi-pundi rupiah.


Kalo Anda lihat, banyak sekali produk yang berseliweran dan itu diproduksi dari pabrik-pabrik besar. Kalo anda sekrang duduk di pinggir jalan, coba lihat : tepung untuk makanan itu diproduksi dimana, cabe, sayur-saryuran, meja, kursi, dll adalah potensi yang diproduksi besar-besaran. 


Hanya orang berani dan BERANI --ane ulang sekali lagi karena emang itu kuncinya--adalah orang yang bisa mengambil kesempatan dari hal tersebut.


Demikian catatanane untuk kali ini. Selamat siang. Selamat hari jumat.

Mental Minoritas

Pagi tadi saya sudah diwanti-wanti untuk ikutan hadir dalam tasyakuran yang diadakan di rumah kakak kedua saya. Ibu saya paling sengit untuk masalah mengingatkan ini, karena menurut beliau, ane sering kali lupa akan sebuah janji. 


Seperti minggu yang lalu, ane sudah dijadwal untuk mengantarkan ibu menagih hutang di mojokerto. Sejak Sabtu ane dah keliaran keliling kota pake vespa. Minggu dini hari, ane lanjut ke rumah susun di kawasan gunung sari untuk ikutan main pe es, dan kebetulan ada teman dari jawa tengah yang sengaja datang kesitu untuk urun rembug. Jadilah ane tidur sampek sore hari dan lupa akan janji yang sudah seminggu dibuat itu. Ane baru sadar tatkala malam harinya, pas ane makan di rumah makan milik teman di kawasan deltasari, dengan sengaja ibu menelpon dimana sebenarnya keberadaan ane. Melalui panggilan telpon itulah, ane jadi ingat bahwa ada janji yang sudah saya ingkari.


Untuk tasayakuran ini, ibu gak ada toleransi. Sejak pagi diingatkan, pas pun di tengah pekerjaan, ane ditelpon untuk tidak lupa. Dan begitu selepas kerja, ane masih ingat dan ternyata perkiraan ibu tentang banyaknya janji ane yang mbeleset ternyata salah ; bahwa saya sudah bertekad bulat untuk datang pada acara tasyakuran itu. 


Memang saya datang terlambat. Sebelum berangkat, saya terpaku untuk melanjutkan membaca buku karya Dahlan Iskan yang fenomenal itu ; ganti hati. Saya niatkan untuk membaca tiga bab lagi karena emang saya ketagihan dengan tulisan-tulisan yang ada di dalamnya. Jadilah ane selepas magrib masih membaca buku itu.


Keisengan pun datang. Mengapa ada semacam niatan baik untuk memasakkan pacar. Saya telponlah dia, saya tawari apakah mau saya buatkan mie di rumah plus telor goreng? Dia jawab mau, jadilah saya masak. Dan itu semua baru selesai selepas isya'. Habis isya' saya langsung mandi, ganti baju, dan tergopoh-gopoh membungkus mie rebus, ditambah telor dan sedikit nasi. Saya hantarkan itu bahan makanan ke kekasih tercinta, dan setelahnya saya ngebut pake vespa ke pagesanan, rumah kakak saya. 


Sampek tempat, susana sudah ramai orang. Mereka sudah pada makanan. Ini menunjukkan kalo saya terlewat untuk ikut pengajian dan mengaji--kalopun ada--yang jelas ceramah agama tidak ada disitu. Acaranya pun sederhana dan diakhiri dengan makan sate dan gule. Saya baru tahu kalo tasyakuran ini adalah syukuran kehamilan ketiga kakak saya setelah anak keduanya meninggal dunia tahun lalu. 


Habis acara pengajian, ane ikutan bantu cuci piring. Minta ampun banyaknya. Tapi tak mengapa, tak hina seorang cowok ikutan cuci piring. Toh ini juga sebagai ganti saya yang terlambat bukan? Masak hanya ikutan makan dan gak berbuat apa-apa. Meskipun kadang dalam budaya jawa laki-laki ditempatkan di maqom istimewa, tapi saya tak gubris hal itu. Sebagai seorang manusia, menjadi setara adalah penting. Sama pentingnya dengan acara pengajian itu sendiri.


Selepas cuci piring, saya minta jatah satu porsi gule untuk saya hantarkan ke temen saya yang digunung sari itu. Tempat dimana anak-anak sering berkumpul untuk bercerita atau mungkin hanya numpang tidur disitu. Paling banyak tentu main play station.Tapi itu saya anggap bonus saja, toh sudah ratusan ribu --kalo saya mengibaratkan begitu banyak jam-jam yang terbuang karena hal ini--kali ane main pes, toh itu juga saya masih kalah melulu. Bosan karena kalah, tapi juga penasaran kenapa setelah belasan tahun bermain game yang sama tapi tetep kalah juga. Rasa penasaran dan kekalahan mengakibatkan makin banyaknya jam yang terbuang. Begitu seterusnya seperti lingkaran setan. 


Cerita menarik justru terjadi setelah itu. Saya haturkan itu satu porsi nasi gule yang lezat, setetalh itu bermain pe es --yang aman ane masih tetep kalah. Dan di game keempat telpon ane berdering. Rupanya teman dari Jombang telpon. Entah ada angin apa kok dia telpon. Jarang sekali dia telpon, apalagi di tengah krisis ekonomi yang sedang menimpanya sekarang. 


Kita pun ngobrol disitu banyak sekali. Isinya adalah terutama tentang kegelisahan masalah pekerjaan. Dulu teman ane itulah yang mengajak ke papua untuk jadi penerjemah. Alhamdulilah pulang dari Papua, keberadaan ane makin "makmur" dari sebelumnya. Dan teman ane ini, mungkin karena salah menej atau bagaimana masih berjibaku dengan pendapatan. Ia sudah berkorban banyak ; kalah dalam forex senilai 25 juta, beli gadget terus-terusan, biaya hidup yang tinggi mungkin sehingga sepulang dari papua ia tak membelikan aktiva ataupun pasiva. 



Dan sekarang kegalauannya makin bertambah karena panggilan balik ke papua tak kunjung datang. Pendapatan bulanan juga tak ada. Padahal keahliannya sangat mumpuni kawan. Ane gak gemen-gemen, bahasa inggrisnya boleh di tes, dan saya berani mengatakan, dialah ahli bahsa inggris se-freeport. Walaupun orang lokal, tapi kalo ngomong inggris, mungkin Anda mengira kalo dia sudah kayak orang Amerika saja. 


Lebih dari itu, pada tahun 2008-2010, selama dua tahun intensif dia menyhiapkan diri dalam hingar-bingar tes CPNS. Sembilan kali (baca 9) dia masuk tes wawancara akhir, dan 9 kali pula ia gagal. Akhirnya dia skeptis terhadap tes CPNS yang sekarang lagi dibuka lagi. Usulan ane supaya dia ikut tes CPNS pun kandas, karena memang dia tidak dimudahkan dalam urusan tes yang satu ini. Sembilan kali masuk babak akhir dan tak ada satupun yang lolos menjadi isyarat bagi dia, seolah mendapat pesan dari langit untuk berhenti dan tidak ikut tes CPNS lagi. 


Kegelisahannya kali ini menjadi semacam seminar motivasi GRATIS bagi ane. NIlainya bagi ane adalah setara dengan biaya seminar yang bahkan nilainya belasan juta. Ane gak ngecap kawan, karena setiap lontaran-lontaran curhatnya bernilai dan bermakna dalam bagi diri saya. Ane adalah orang yang beruntung pada malam itu karena mendapatkan banyak wejangan dari dirinya. 


Misalkan tentang menjalani hidup jadi PNS dan bisa jadi kaya raya. Dia pun menolak kalo PNS bisa kaya, karena sejatinya menjadi PNS adalah menjadi pelayan rakyat. Tidak mungkin akan kaya karena memang gajinya hanya segitu-segitu saja. Kalo pun ada PNS  yang jadi super kaya, harus dan wajib dipertanyaakan darimana kekayaannya itu berasal.


Ia pun menghina dirinya sendiri dan menertawakannya dengan ikhlas. Ia setuju kalo memang bangsa kita ini bangsa babi. Ups, jangan tersinggung karena memang begitulah kenyataannya. Dulu kita berprinsip ; bersatu kita teguh, bercerai kita nikah lagi, eh salah, bercerai kita runtuh. Kini banyak orang yang lebih suka bercerai saja. Semua pada ngurusin masalah individunya masing-masing tanpa memperhatikan sesama saudaranya. Dan itulah sebab kenapa Endonesa tidak pernah maju hingga detik ini.


Cita-citanya dengan cita-cita ane hampir-hampir mirip ; sebelas dua belas lah kalo ane bilang. Mau mandiri, bermanfaat bagi orang lain, berdiri sendiri, dan untung-untungan kalo ditakdirkan jadi orang kaya raya. 


Lalu ane bertanya ; kenapa orang tionghoa itu begitu sukses? Dia menjawab dengan singkat, tidak usahlah membahas mereka, karena itu adalah hak mereka. Dan kita tak berhak untuk menanyakan hal itu lagi. Lho kok? Begini, jawabnya, karena sejak awal mindset dan pola pikir kita dan mereka berbeda. 


Bagi minoritas, kebersamaan adalah segalanya, dan pemhaman terhadap prinsip harta sangat dipegang. Harta dibawa mati bung, dan kita tidak berprinsip seperti itu. Salahnya adalah, kenapa kita masih mengungkit-ngungkit mereka. Padahal kita ndak ada hal sama sekali untuk membahasnya sedikitpun. 


Dia kasih contoh riil. "Oke, ente punya tanah, dan beranikah ente mensekolahkan sertifikasnya ke bank untuk modal buat usaha yang menurut ente bisa menghasilkan?" Dengan sadar ane jawab ; ndak mau. Dan itulah perbedannya. Sejak awal ane gak berani untuk mengambil resiko dan memperjuangkan peluang yang ada dengan menggadaikan hal terbesar yang kita punya. Ane lebih suka standar-standar saja berada di zona nyaman. Ya punya tanah, kerja lagi siapa tahu bisa beli tanah lagi. Begitulah kira-kira prinsip ane yang ane yakini sekarang. 


Dan ia pun menyadari bahwa dirinya juga bermental sama. Takut, pengen hasil besar tapi gak mau ambil resio besar. Maunya aman-aman saja, yang penting menjalnai hidup jadi orang normal. Normal yang gimana? Punya istri, punya anak, punya rumah, bisa mensekolahkan anak, untung-untungan bisa beli lebih dan menunggu kematian setelah itu. 


Ane jadi tergugat, ane jadi njingkat, ane macam jadi kayak kuda yang dipecut habis-habisan karena terlalu lama memamahbiak dan tidak pernah turun lapangan. Nasehat temen ane tadi begitu menohok. Ornag-orang yang sukses, jangan membahas mereka, karena mereka telah melaukannya. Membahas mereka dalam sisi positif maupun egatif adalah wujud iri dengki kita yang tidak bisa seperti mereka-mereka yang ktia bahas itu. 


"Orang kita ini lucu, maunya aman-aman saja, bikin proposal, ajukan dana ke orang lain, baru produk muncul", "Lha kenpaa gak bikn produk dulu, lalu marketingkan dengan benar?"


Ane makin terjingkat dan pengen berlari saja untuk segera melaksanakan apa yang jadi pemahaman ane malam itu. Pikiran ane menari-nari untuk instrospeksi diri dan menambah keberanian untuk melangkah dan mengambil tindakan. Kenapa selama ini ane nyaman saja di kandang, tapi gak pernah membuka pemikran untuk BERANi dalam mengambil langkah guna menyongsong masa depan yang ane inginkan.


BERANI itulah yang menjadi pembeda antara kita dan mereka. Maka tak usahlah membahas kesuksessan mereka karena itu adalah hal lumrah dan sunnatullohnya orang-orang yang berani. Bahasan malam itu membuat ane kagum. Pengen sekali menuliskannya, dan tatkala ane sampek rumah, ane ambil keyboard dan mulai menulis kejadian tadi.


Berani punya produk sendiri

Berani memarketingkannya dengan TMS (terstruktur, masif, dan sistematis)

Berani mengambil resiko

Dan segala keberanian lainnya.


Terima kasih kawan, malam ini, saya mendapat pencerahan.


Salam

Rabu, 27 Agustus 2014

Baru Kali Ini Makan Rasanya : Senang + Sedih + Lucu

Kemaren malam, ane menyediakan waktu buat berkunjung ke daerah deltasari. Tujuan ane kesana patent banget : jadi hamba perut untuk memuaskan nafsu lapar. Temen ane yang dulu pernah sekolah bareng dan sam-sama hobi main bola lagi buka rumah makan bertajuk : Bebek-Ayam Cahyo. Hmmm…bebek? Makanan yang satu ini sudah sangat umum di kawasan Surabaya. Kenapa kok ane katakan begitu? Simple aja : banyak warung serupa yang juga buka. Hal, ini menunjukkan kalo peminat bebek di Surabaya tergolong tinggi.

Oke, makanlah kita disana. Cuap-cuap sana sini. Dan kawan, restorannya tergolong bagus. Ruangannya bersih, pake AC, di kawasan yang rame, parker nyaman meskipun berbayar, pokoknya enak. Pas ane berkunjung, ternyata banyak juga pelanggannya.