Sabtu, 30 Agustus 2014

Akhirnya Konak Eh Konek Dari Rumah

Tepat pukul 17.30 setelah ane datang dari Krian, internet terpasang. Pelayanan first media sejauh ini (terkait dengan pemasangan) sangat cepat. Ane kontak pagi itu salesnya, dan sore hari pemasangan kabel-kabel dah dimulai. Tadi mereka datang jam 15.00-san dan butuh dua jam untuk menyelesaikannya. Syukurlah. Internetnya pun lumayan. Andai saja instansi pemerintahan bergerak macam instansi swasta macam gitu ya, pasti negara ini makin maju. Eit tenang aja, bos Lippo Group yang nota bene adalah pemilik First Media adalah kawan dekat Presiden kita nanti, Jokowi, So, kita tunggu saja supaya kinerja First Media ini juga nimbrung di tubuh pemerintahan kita.


Terlalu Capek Dengan Harapan

Renungan :

"Bukankah bahagia dan kecewa sebenarnya bisa kita ciptakan sendiri? Orang akan merasa bahagia kalau keinginannya tercvapai. Orang akan merasa kecewa kalalu keinginannya tidak terapai. Maka, ini saya, untuk mencapai kebahagiaan sangatlah mudah. Jangan pasang keinginan terlalu tinggi. Jangan menaruh harapan terlalu banyak."

"Dulu pun saya hanya ingin Jawa Pos menjadi koran yang punya oplah separonya dari Surabaya Post. Tidak perlu lebih besar dari itu. Waktu itu, rasanya tidak mungkin mengejar Surabaya Post yang sudah merajalela kehebatannya."

"Baru setelah ternyata mudah sekali membuat koran yang bisa sebesar 50% Surabaya Post, meningkatlah keinginan untuk bisa sebesar Surabaya Post. Keinginan itu meningkat terus secara bertahap, sehingga menjadi seperti Group Jawa Pos sekarang."

Dahlan Iskan, Ganti Hati

Kawan, itulah yang membuat ane terenung untuk mendalami apa sebenarnya di balik tulisan tersebut. Kalo Anda merasa bahwa saya sedang mendewakan Dahlan Iskan, ya silahkan saja, toh juga saya punya panutan lainnya. Ilmu yang disalurkan dalam bentuk buku itu ane renungkan baik-baik. Ane install dalam-dalam di otak dan sanubari ane.


Gak Papa Norak Asal Jujur

Mungkin sampeyan-sampeyan yang berkunjung di web gratisan ini akan langsung bilang : Norak! Isinya jualan melulu...Hehehehhe...Belum apa-apa sudah promosi duluan. Tuh liat logo tiket liat yang membumbung tinggi di header blogspot gratisan. 

Anda benar, ane pilih apa adanya ketimbang harus "munafik" tapi ujung-ujungnya hanya jualan. Ane gak mau seperti itu. Biarlah nanti pelanggan sendiri yang menilai. Saya lebih baik jelas diawal daripada nanti mengiba-iba dengan merusak konten blog ane sendiri. 

Sedari awal ane niatkan blog ini untuk jadi media komuniasi dan mengenalkan tiket lia --usaha ane bro-- ke khalayak ramai. Banyak sekali agen travel sejenis yang juga rame-rame menjadikan web sebagai bahan promosi. Dan ane adalah salah satunya. 

Makanya kalo Anda bilang bahwa ane norak isinya jualan melulu ya ane gak salahkan. Silahkan saja wong memang kenyataannya begitu. Dan ane lebih senang jujur-jujuran begitu daripada ane nggembol udang di balik celana dalam ane yang nanti pada jurang kementokan kudu ane tunjukkan kepada pembaca. Ane gak mau, lebih baik mereka tahu sejak awal ketimbang kecewa di belakang.

Penggunaan web ini sebenarnya ane terlambat. Mengutip kata Mas Jaya Setiabudi bahwa dia juga menyesal kenapa kok barusan kenal internet sekarang untuk memasivekan penjualan dan promosinya, ane juga demikian. Bedanya, Mas Jaya Setiabudi sudah jadi pemimpin bisnis kawakan, sedangkan ane masih merangkak macam bayi yang belajar ngesot. It's okay...ane jadikan dia panutan.

Lalu jadilah ane blogger. Menyempatkan diri untuk menulis apa saja dan ane update secara berkala di blog. Untung-untung ada pembaca yang tahu tiketlia, dan sewakut-waktu kalo dia butuh bantuan untuk mengurus masalah perjalanan dan tiket, bisa langsung kontak ane .

Ini adalah bentuk iktiyar mas bro. Metode untuk mengenalkan banyak sekali. Ane juga gak lupa untuk mengenalkan usaha ane ini offline dengan menyebar kartu nama dan memperbanyak persahabatan. Ya, siapa tahu ada yang nyantol. Nah, ketika nyantol itulah ane akan tunjukkan kinerja ane untuk memuaskan pelanggan.

Pada titik ini, ane menyiapkan diri berjuang habis-habisan ; mengupdate blog, mengenalkan usaha ane ke banyak orang, memuaskan pelanggan dengan pelayanan 101%, dst. Ane manusia yang diberi Tuhan otak untuk berpikir, badan normal untuk bertindak, dan hati untuk berdoa. Untuk mengungkapkan perasaan ane, izinkan ane kutip perkataan Dahlan Iskan dalam bukunya ganti hati :

"Saya tahu kapan harus ngotot dan kapan harus sumeleh. Keluarga saya yang amat miskin dan menganut tasawuf Sathariyah sudah mengajarkan sejak awal tentang sangkan paraning dumadi (darimana dan akan kemana hidup dan semua kejadian). Ini membuat saya akan ngotot melakukan apa pun untuk berhasil, tapi juga tahu batas kapan harus berakhir."

Sekarang usaha saya untuk mengenalkan tiketlia kepada banyak orang sedang saya lalukan. Ane pun ngotot melakukan apa saja. Nasehat macam apa saja ane lakukan untuk meletakkan satu kalimat di otak pembaca bahwa tiketlia itu ada. 

Usaha macam apa saja itu termasuk : menjalin koneksi dengan hotel-hotel, menjalin koneksi dengan agen di lombok dan bali, mengupdate blog secara berkala, menulis dan menggali ide, dan di ujung ikhtiyar ini saya hanya berdoa lirih : "Tuhan, terserah engkau ae lah! Kalopun berhasil yang berhasilah, kalau pun usaha ini gagal ya gagalkanlah! Selesai" . Setelah doa itu, tiba-tiba saya lega sekali. Maknyus dan Plong rasanya.

Kecanduan Malas : Awas Terhadap Pikiran Menjadi Sempurna

Kemaren malem ane denger radio. Gak sengaja nyentuk channel di hape jadul yang emang ada fitur radionya itu. Hape butut itu ane tempelin headset, eh iseng pencet radio dan berfungsi dengan baik. So, ane denger baik-baik. Channelnya juga kebetulan channel Suara Surabaya. Hmm...biasanya sih, ane denger channel ini pas lagi di mobil untuk mengupdate dan memantau apa saja yang terjadi dalam perjalanan. 

Segmentasi radio Suara Surabaya sangat spesifik. Dia fokus pada pendengar yang ada ada di jalan. Namnaya kota besar kayak surabaya, mana ada sih orang yang gak ada di mobil. Pengguna mobil juga berjibel sehingga penyediaan informasi terhadap mereka pun mutlak sebagai pasar yang pasti. Orang naik mobil pasti denger SS. Nah, pas lulus dari kuliah, ane ada ide untuk membuat sistem informasi kampus, temennya kakak ane disuruh untuk promosi ke SS yang menurut dia ; meskipun mahal tapi cespleng. 

Tapi bahasan kali ini bukan untuk mengomentari radionya kawan. Radio is fine, tapi apa yang ane denger kemaren malam sungguh membuat ane malu. Disitu ada seorang pendenger di telpon yang bicara bahwa kalo dia jalan di mall, semua buah rata-rata import. Padahal negara kita ini khan tanahnya subur, kenapa ndak bisa produksi buah macam begitu?

Apakah sudah saking malasnya ane sampai tanam buah-buahan bagus pun ndak bisa? Atau jangan-jangan karena biaya produknya mahal sehingga banyak orang malas untuk tanam jenis buah seperti itu? Yang jelas, celotehan dari pembaca kemaren menyimpulkan dua makna : kesempatan pun juga keprihatinan.

Sebagai anak muda yang getol bisnis, ane memandangnya sebagai sebuah kesempatan. Kesempatan bahwa ada yang bisa dilakukan untuk memenuhi pasar lokal sendiri. Dan bidang tersebut emang sesuai dengan yang ane suka : agrobisnis. Lha kenapa tidak dikondisikan dengan segera?

Dari buku Mengatur HIdup Dan Merancang Masa Depan karya Marwah Dauh Ibrahim yang dulu ane baca selepas lulus pesantren, ternyata masih banyak potensi yang menganggur di Republik ini. Pandangan tersebut bisa benar pun juga bisa salah. Atau karena faktor ketidahtahuan yang menjadikan tidak banyak orang tahu akan sebuah potensi. Bukan hanya sarjana menganggur, tap juga tanah nganggur, udara nganggur, sungai nganggur yang tinggal menunggu SDM-nya saja untuk kreatif agar menghasilkan secara ekonomis.

Ups--ini lagi bahas apa sih kok gak ada hubungannya sama tiket--hehehehe...ndak masalah. Ini adalah sebuah renungan untuk diri ane pribadi setelah mendengar celotehan pendengar SS kemaren. Ini macam jadi pecut bagi ane yang jangankan ngatur keluarga, ngatur diri sendiri saja masih susah. Kemajuan emang bukan milik orang malas. Titik.

Termasuk saat mengupdate blog ini. Ane pastikan tidak ada satu alasan pun untuk mengelak bahwa blog tidak terupdate. Itu adalah sebuah dosa bagi seorang blogger macam ane. Jika blog ini jadi rumah tua yang banyak sawang, laba-laba, dan tampak angker, itu kesalahan ada di ane yang gak kreatif untuk mengungkap sebuah sisi dalam sebuah tulisan. 

Sudah tidak ada alasan, dan alasan bagi sebuah kesuksesan adalah naif. Kenapa? Karena ada orang dengan beribu satu macam kendala tapi bisa sukses, pun juga ada orang yang dengan minimnya kendala malah terjerembab dalam lembah kemalasan. (ane termasuk yang kedua..hehehehe)

Ane contohnya real saja. Sebagai blogger ane khan kudu menyajikan tulisan. Target ane lima tulisan seminggu, gak banyak-banyak lah. Ane ngukur kecepatan menulis ane, ane ukur daya kreatif ane, dan angka 5 tulisan seminggu itu bukan hal yang mustahil. Oke ukuran diri sudah di dapat. 

Ukuran berikutnya adalah infrastruktur kata orang-orang pemerintahan. Hal yang tergolong dalam jenis ini adalah : ada tidaknya internet, biaya internet, laptop atau komputer, dst. Ane sendiri sudah alhamdulillah bisa update blog lewat smartphone yang ane konekin ke keyboard bluetooth. Ane rasa cukup. 

Lalu disitu timbul masalah : gimana masalah sumbernya? Enakan pake laptop supaya kerjanya enak? Koneksi internetnya yang kenceng dong supaya enak kalo update dst...Pikiran-pikiran seperti itu akan muncul secara tiba-tiba dalam berbagai macam variasi. 

Kata buku-buku motivasi kayak gini : Jangan nunggu sempurna untuk memulai. Nah itu...PIkiran-pikiran seperti itu yang nota bene dirasa benar masuk logika, tapi sebenarnya menimbulkan jebakan untuk "menunggu" hingga keadaan sempurna. Tak ada yang salah dengan itu semua, bahkan itu mendukung, tapi kalo emang pikiran seperti itu menghambat kinerja ane sebagai blogger, maka bisa ane kategorikan bahwa pikiran semacam itu adalah "perampas kesuksesan ane".

Nauzubillah kalo pikiran semacam itu membuat ane akhirnya banyak alasan dan menimbulkan kemalasan. Dan memang biasaya seperti itu. Menunggu sempurna dan terus menunggu sampai akhirnya ada orang yang dengan segala keterbatasan bisa menciptakan karya yang aduhai (luar baisa ane ganti sama aduhai suapaya gak kayak bahasa MLM).

Dulu ane juga pernah baca kalo ada penulis indonesia yang hanya bermodalkan mesin ketik saja bisa bikin novel. Wow....sekarang khan eranya kompi mas broooo....malah lebih enak, lha kok kalah dengan yang pake mesin ketik? Itu adalah tamparan dahsat. Pipi ane sampek merah-merah merenungi hal tersebut.

Nah, cukup sampai disini, silahkan bertanya pada diri masing-masing : adakah zat heroin dalam bentuk menunggu kesempurnaan itu pada diri Anda? Silahkan komeng di bawah ya.

Jumat, 29 Agustus 2014

Langganan Internet First Media

Ane jadi tertarik untuk ikutan langganan internet bulanan milik First Media. Ini bukan ikut-ikutan lho, tapi lebih didasari pada kebutuhan. 

Banyak lingkungan ane ikutan First Media, karena selain lancar, itung-itungannya juga murah. Dua kombinasi ini yang membuat ane juga buka demi memenuhi kebutuhan ngeblog.

Diri ane sekarang telah ane tetapkan untuk jadi dua sekaligus (moga-moga aja bisa) : blogger dan pengusaha. Untuk urusan usaha, semetnara yang ane fokuskan tentu travel doang. Demi mewujudkan agar orang-orang pada mampir di blog ini, ane kudu peras otak supaya menyajikan hal-hal menarik supaya semut-semut itu pada datang. 

Kenak diabet kali ya? hahahaha..ndak-ndak kawan Intinya ane butuh ngenet dan terlebih lagi, ngenet  yang sesaui dengan budget di kantong. 

Selama ini pengerjaan blog travelia ane shiftkan. Artinya ane kerjakan paruh waktu. Jadi mulai pagi ane kerja nyales, dan masuk sore hari, ane kumpulin materi-materi yang bisa ditulis, lalu ane kerjakan beberapa suapaya jadi tulisan yang bermutu. Untuk itulah ane butuh internet juga di rumah supaya kontinuitas dan waktu untuk upadate blog jadi makin terbuka.

Eniwei, itu saja ceritanya. Nanti kapan-kapan disambung lagi. Ciao...