Jumat, 29 Agustus 2014

Menulis Sambil Berbisnis

Ane mendefenisikan pekerjaan ane dalam dua hal : menulis blog dan memproduksi barang. Emang jurnalistik bukanlah pekerjaan ane, tapi sejak dulu di pesantren, ane ikutan mading pondok yang ane dalemin selama 8 tahun. Disitu ane jadi wartawan gadungan yang coba-coba melatih mental dengan mewawancari orang lain lalu menulis bereita darinya. Beriita hasil ketikan kita saat itu diprint, dan ditempelkan dalam mading yang terletak di jantung pondok kami tercinta.


Dari situlah ane bisa mengetik di keybaord dengan kecepatan yang sempurna. Kalo ada orang mau tes-tesan nulis di keyboard, bolehlah saya ikutan lomba dengan dia, siapa yang paling cepat untuk mengetik selembar. Dan kebiasaan ini pulalah yagn menjerumuskan ane untuk mengetaik langsung dan menulis apa saja ; dari buku harian, blog, blog teman, dkk. Dunia menulis menjadi kebiasaan harian sejak saat itu.


Hingga detik ini, menulis pun menjadi bagian hidup saya. Saya emang bukan seorang penulis. Kalo Anda baca tulisan-tulisan saya, lebih banyak tulisan-tulisan yang bergaya standar. Sastranya tidak ada karena eman daya pikri saya untuk menciptakaan kata-kata baru tidak melekat sama sekali. Ane lebih suka menulis dengan gaya apa adanya. Macam orang ngomong ngalor-ngidul, ya semacam itu. 


Jadilah ane menawarkan diri untuk membatu publikasi teman-teman sekitar. Misalkan saat ini ada tiga teman yang saya tawarkan untuk membesarkan blog mereka. Saya dengan senang hati akan menulis rutin di tiga blog itu agar usaha mereka bisa dikenal dan akhirnya berkembang. Masalah nanti berkembang atau tidak, saya pun tidak tahu, yang saya tahu adalah : saya menulis di blog mereka.


Emang kenyataannya saya sekarang bekerja sebagai sales mesin hidraulik. Itupun atas bantuan teman yang kebetulan kenal dengan yang punya perusahaan. Saya mengiyakan tawaran itu, karena kebutuhan bulanan menuntut untuk mencari uang. Jadilah saya bergaji 2,5 jt perbulan. Sudah satu setengah bulan saya kerja disini, gaji peretama saya terima dengan senang hati. Saya buat bayar vespa 500 ribu dan sisanya amblas untuk memperbaiki vespa. 


Saya memang penggemar vespa, dan ini adalah vespa pertama yang saya beli dengan cicilan. Vespa PX 150 tahun 1979 milik kakak teman yang memasukkan saya di perusahaan swasta ini.


Awalnya saya coba cicil itu barang selama lima bulan, tapi entah karena satu dua sebab, yang punya sepeda minta dicash-i bulan ini. Saya yang kadung cinta sasma vespa itu dan sudah mengeluarkan gaji pertama untuk merombaknya, harus degnan sumeleh merelakan gaji kedua nanti untuk membayar sisa uang vespa tersebut.


Tapi tak mengapa,,,toh juga vespa sudah di tangan. Kalo lain hari ndak ada duit, ya gimana lagi, kudu ane jual. Tapi bukan vespa itu fokus saya. Vespa ini adalah hobi, dan yup, benar hobi, saya pun kudu membatasi disitu. 


Pikiran saya adalah bagaimana saya bisa memnulis dan berbisnis dalam satu waktu? Saya suka sekali dengan bisnis, sudah banyak bisnis yang saya lakukan dan semuanya gagal. Kini, saya sudah tekad bulat untuk merambah satu jenis usaha ; makanan ternak. Dan why not? Sumberdaya ada, tenaga ada, kemampuan ada, tinggal ekskusi saja.


Pikiran saya pun gak muluk-muluk. Gak mikirin pemsaran dahulu. Yang teprenting sekarang adalah : bagaimana produk atas nama pribadi saya itu bisa jadi. TItik!


Produk ini wajib. Wajib 'Ain kalo hukum fiqihnya. Ndak ada toleransi kalo ndak bisa terwujud. Niatan menjadi pengusaha sekelas Bob Sadino, Sandiaga Uno, Jaya Setiabudi, dkk sudah ada di ubun-ubun. (Kok terlalu melip sihi..astagfirulloh) interupsi-interupsi. Mereka adalah panutan asya dan biarkan saya mengikuti jejak mereka, untung-untung kalo ditakdirkan seperti mereka. Hehehehehe....


Saya jalani apa adanya aja deh...Target pertama: Produk hasil karya ane jadi. Itulah target pertama  yang kudu ane laksanakan dalam 2 bulan.


Lebih dari itu? Ndak tahu....Tapi saya punya bayangan seperti ini :


-Menulis blog dan mengupdatenya dengan cerita perjalanan membangun bisnis ane dari awal.


-Menulis apa saja  yang berkaitan dengan dunia yang ane tekuni.


Indah sekali. Saya dapat dua hobi sekaligus : berbisnis dan menulis. Bisa saya rangkum jadi satu. Ah, memang inilah yang saya pengeni. Inilah yang saya pengen nikmati.


Cukup samapi disini dulu, nanti diupdate lagi. Thanks


Lha Terus Ane Kudu Gimana Gan?

"Harus mengajukan perimntaan apa kepada Tuhan? Bukankah manusia cenderung mnta apa saja kepada Tuhan sehingga terkesan dia sendiri malas berusaha? Saya tidak mau Tuhan mengejek saya sebagai orang yang bisanya hanya berdoa. Saya tidak mau Tuhan mengatakan kepada saya : Untuk apa kamu saya beri otak kalau sedikit-sedikit masih juga minta kepada-Ku?" Dahlan Iskan(Ganti Hati)


Kutipan dari Dahlan Iskan diatas sengaja ane cantumkan untuk mengusik diri ane sendiri. Bahwa, segala sesutu juga kudu dilakukan dengan kemampuan diri sendiri, tidak hanya dengan doa-doa- dan doa melulu.


Ane bukan menafikan doa, apalagi ana adalah orang yang percaya keberdaan Tuhan. Tapi kadang ane menempatkan porsi tidak pada tempatnya, ane kadang bingung dan menyalhakan apa yang kudu disalahkan. Menyalahkan keadaan, menyalahkan situasi dan kondisi, dan menyalahkan siapapun yang kudu ane salahkan. Padahal sebenarnya tidak ada yang salah, yang salah adalah diri ane sendiri.


Orang seperti ane tidak sadar akan kemampuan diri ane sendiri. Okelah, sekarang Anda bisa menyimak kalo sebenarnya ane suka menulis, nah itu kemampuan. Tapi ane gak sadar akan hal itu. Di lain pihak, ane semacam punya semangat marketing tinggi, suka door to door untuk memasarkan barang orang lain. Lalu mengapa ane gak ciptakan barang sendiri yang bisa dijual sendiri dan di menej sendiri?


Keberanian untuk mengakui kemampuan seperti itu adlaah kelemahan. Ujunng-ujungnya adalah hilangnya kesadaran bahwa sebenarna ada banyak kemampuan pada diri ane. Dan itu kawan, uniknya, setiap manusia PASTI punya kelebihan berbeda-beda. Cuman masalahnya pandangan mata, hati dan kesadaran seringkali kabur untuk menilai bagaimana sebenanya diri kita masing-masing.


Saat pandangan kabur seperti itulah, ane sendiri butuh cermin untuk berkontemplasi. Cermin itu bisa dari diri sendiri, bisa juga dari kritik orang lain, bisa juga dari sebuah kejadian  yang menggugah kesadaran. Cermin itu banyak sekali, tinggal pintar-pintar kita saja untuk berhenti sejenak, menelaah kembali, dan mengambil hikmah darinya.


Dan bagi ane, cermin itu datang malam hari kemaren. Saat ane dicuci habis-habisan oleh teman. Dia tidak mengkritik saya, dia menceritakan dirinya sendiri dan dari kritikannya itulah ane dapat sesuatu yang menggugah, sesuatu yang membuat ane bangkit untuk pertama kalinya.


Kemaren malam adalah tonggak pertama saya menjadi berani. Tangguh untuk mengambil resiko. Dan resiko itu bernama : kebangkrutan.


Dari sini, ane dapat sesautu, apa itu? Untuk menjadi seorang yang sukses, kudu mengambil langkah berani. KIta pun tak tahu, apakah langkah itu benar atau salah toh kejadian setelahnya kita juga tidak akan pernah tahu. Tapi keputusan untuk mengambil langkah tertentu adalah sebuah bentuk usaha pribadi untuk mengadu nasib dan menjalani takdir.


Apakah takdir saya akan bangkrut? Who knows, atau malah akan berhasil? Who knows too...Semuanya masih menjadi rahasia. Yang bisa saya sediakan adalah : keterampilan untuk mengelola diri menjadi berhasil. Kalo pun sudah dikelola dan gak berhasil, itu urusan lain, berarti takdir menyuruh saya untuk sumeleh dalam sebuah bidang yang saya tekuni.


Singkat kata, insiprasi kemaren malam adalah : membuat produk sendiri. Inilah yang kudu ane lakukan dengan segera. Bahwa produk yang mumpuni dan yang ane ketahui cara pembuatnanya dari A-Z hingga distribusinya ada di tangan saya. Ini adalah cikal bakal menjadi seorang pengusaha. Sukses atau gagal saya ndak tahu. Saya hanya akan menjalankan hal-hal yang "kiranya" membuat saya sukses.


Produk itu bernama pakan ternak. Dan kawan, inilah hal yang saya kerja sekarang. Mula-mula saya mendata, apakah ada sumberdaya yang bisa saya gunakan? Otak lalu bilang ; ada! Ane punya pick up, punya sebidang tanah untuk menumpuk barang dijadikan gudang. TInggal sekarang mencari rumput, jerami, dan biang bakterinya saja.


Kedua, ane juga mencanangkan untuk membeli mesin penggiling jerami yang harganya 3 jtua rupiah. Itu setara dengan gaji ane sebulan setengah bekerja sebagai sales. Ndak papa, toh itu juga merupakan investasi nyata.


Target ane pun gak muluk-muluk. Simple saja. Ane belum berpikiran untuik mengembangkan usaha ini jadi seperti PT Wonokoyo, Cheil Jeddang, Charoen Phokphand atau apalah, ane hanya simple saja dalam target. 


Kalo sampeyan tahu target ane, menghitung seluruh pengeluaran untuk setiap detail pupuk yang dihasilkan sekarung beserta alat-alatnya, dan mengembalikan modal dengan menjual pakan ternak tersebut. 


Yup, target ane adalah : BEP dahulu. Itu saja, dan itulah target ane satu-satunya sekarang. Mengitung biaya produksi, plus biaya pemsaran, plus juga biaya trasport dkk lalu mengembalikan itu semua sudah membuat saya menajdi puas.


Hal utama dari pembelajaran kemaren adalah : keberanian untuk menciptakan produk sendiri. Sebagai seorang usahawan, produk ini penting. Karena denganya kita mengais pundi-pundi rupiah.


Kalo Anda lihat, banyak sekali produk yang berseliweran dan itu diproduksi dari pabrik-pabrik besar. Kalo anda sekrang duduk di pinggir jalan, coba lihat : tepung untuk makanan itu diproduksi dimana, cabe, sayur-saryuran, meja, kursi, dll adalah potensi yang diproduksi besar-besaran. 


Hanya orang berani dan BERANI --ane ulang sekali lagi karena emang itu kuncinya--adalah orang yang bisa mengambil kesempatan dari hal tersebut.


Demikian catatanane untuk kali ini. Selamat siang. Selamat hari jumat.

Mental Minoritas

Pagi tadi saya sudah diwanti-wanti untuk ikutan hadir dalam tasyakuran yang diadakan di rumah kakak kedua saya. Ibu saya paling sengit untuk masalah mengingatkan ini, karena menurut beliau, ane sering kali lupa akan sebuah janji. 


Seperti minggu yang lalu, ane sudah dijadwal untuk mengantarkan ibu menagih hutang di mojokerto. Sejak Sabtu ane dah keliaran keliling kota pake vespa. Minggu dini hari, ane lanjut ke rumah susun di kawasan gunung sari untuk ikutan main pe es, dan kebetulan ada teman dari jawa tengah yang sengaja datang kesitu untuk urun rembug. Jadilah ane tidur sampek sore hari dan lupa akan janji yang sudah seminggu dibuat itu. Ane baru sadar tatkala malam harinya, pas ane makan di rumah makan milik teman di kawasan deltasari, dengan sengaja ibu menelpon dimana sebenarnya keberadaan ane. Melalui panggilan telpon itulah, ane jadi ingat bahwa ada janji yang sudah saya ingkari.


Untuk tasayakuran ini, ibu gak ada toleransi. Sejak pagi diingatkan, pas pun di tengah pekerjaan, ane ditelpon untuk tidak lupa. Dan begitu selepas kerja, ane masih ingat dan ternyata perkiraan ibu tentang banyaknya janji ane yang mbeleset ternyata salah ; bahwa saya sudah bertekad bulat untuk datang pada acara tasyakuran itu. 


Memang saya datang terlambat. Sebelum berangkat, saya terpaku untuk melanjutkan membaca buku karya Dahlan Iskan yang fenomenal itu ; ganti hati. Saya niatkan untuk membaca tiga bab lagi karena emang saya ketagihan dengan tulisan-tulisan yang ada di dalamnya. Jadilah ane selepas magrib masih membaca buku itu.


Keisengan pun datang. Mengapa ada semacam niatan baik untuk memasakkan pacar. Saya telponlah dia, saya tawari apakah mau saya buatkan mie di rumah plus telor goreng? Dia jawab mau, jadilah saya masak. Dan itu semua baru selesai selepas isya'. Habis isya' saya langsung mandi, ganti baju, dan tergopoh-gopoh membungkus mie rebus, ditambah telor dan sedikit nasi. Saya hantarkan itu bahan makanan ke kekasih tercinta, dan setelahnya saya ngebut pake vespa ke pagesanan, rumah kakak saya. 


Sampek tempat, susana sudah ramai orang. Mereka sudah pada makanan. Ini menunjukkan kalo saya terlewat untuk ikut pengajian dan mengaji--kalopun ada--yang jelas ceramah agama tidak ada disitu. Acaranya pun sederhana dan diakhiri dengan makan sate dan gule. Saya baru tahu kalo tasyakuran ini adalah syukuran kehamilan ketiga kakak saya setelah anak keduanya meninggal dunia tahun lalu. 


Habis acara pengajian, ane ikutan bantu cuci piring. Minta ampun banyaknya. Tapi tak mengapa, tak hina seorang cowok ikutan cuci piring. Toh ini juga sebagai ganti saya yang terlambat bukan? Masak hanya ikutan makan dan gak berbuat apa-apa. Meskipun kadang dalam budaya jawa laki-laki ditempatkan di maqom istimewa, tapi saya tak gubris hal itu. Sebagai seorang manusia, menjadi setara adalah penting. Sama pentingnya dengan acara pengajian itu sendiri.


Selepas cuci piring, saya minta jatah satu porsi gule untuk saya hantarkan ke temen saya yang digunung sari itu. Tempat dimana anak-anak sering berkumpul untuk bercerita atau mungkin hanya numpang tidur disitu. Paling banyak tentu main play station.Tapi itu saya anggap bonus saja, toh sudah ratusan ribu --kalo saya mengibaratkan begitu banyak jam-jam yang terbuang karena hal ini--kali ane main pes, toh itu juga saya masih kalah melulu. Bosan karena kalah, tapi juga penasaran kenapa setelah belasan tahun bermain game yang sama tapi tetep kalah juga. Rasa penasaran dan kekalahan mengakibatkan makin banyaknya jam yang terbuang. Begitu seterusnya seperti lingkaran setan. 


Cerita menarik justru terjadi setelah itu. Saya haturkan itu satu porsi nasi gule yang lezat, setetalh itu bermain pe es --yang aman ane masih tetep kalah. Dan di game keempat telpon ane berdering. Rupanya teman dari Jombang telpon. Entah ada angin apa kok dia telpon. Jarang sekali dia telpon, apalagi di tengah krisis ekonomi yang sedang menimpanya sekarang. 


Kita pun ngobrol disitu banyak sekali. Isinya adalah terutama tentang kegelisahan masalah pekerjaan. Dulu teman ane itulah yang mengajak ke papua untuk jadi penerjemah. Alhamdulilah pulang dari Papua, keberadaan ane makin "makmur" dari sebelumnya. Dan teman ane ini, mungkin karena salah menej atau bagaimana masih berjibaku dengan pendapatan. Ia sudah berkorban banyak ; kalah dalam forex senilai 25 juta, beli gadget terus-terusan, biaya hidup yang tinggi mungkin sehingga sepulang dari papua ia tak membelikan aktiva ataupun pasiva. 



Dan sekarang kegalauannya makin bertambah karena panggilan balik ke papua tak kunjung datang. Pendapatan bulanan juga tak ada. Padahal keahliannya sangat mumpuni kawan. Ane gak gemen-gemen, bahasa inggrisnya boleh di tes, dan saya berani mengatakan, dialah ahli bahsa inggris se-freeport. Walaupun orang lokal, tapi kalo ngomong inggris, mungkin Anda mengira kalo dia sudah kayak orang Amerika saja. 


Lebih dari itu, pada tahun 2008-2010, selama dua tahun intensif dia menyhiapkan diri dalam hingar-bingar tes CPNS. Sembilan kali (baca 9) dia masuk tes wawancara akhir, dan 9 kali pula ia gagal. Akhirnya dia skeptis terhadap tes CPNS yang sekarang lagi dibuka lagi. Usulan ane supaya dia ikut tes CPNS pun kandas, karena memang dia tidak dimudahkan dalam urusan tes yang satu ini. Sembilan kali masuk babak akhir dan tak ada satupun yang lolos menjadi isyarat bagi dia, seolah mendapat pesan dari langit untuk berhenti dan tidak ikut tes CPNS lagi. 


Kegelisahannya kali ini menjadi semacam seminar motivasi GRATIS bagi ane. NIlainya bagi ane adalah setara dengan biaya seminar yang bahkan nilainya belasan juta. Ane gak ngecap kawan, karena setiap lontaran-lontaran curhatnya bernilai dan bermakna dalam bagi diri saya. Ane adalah orang yang beruntung pada malam itu karena mendapatkan banyak wejangan dari dirinya. 


Misalkan tentang menjalani hidup jadi PNS dan bisa jadi kaya raya. Dia pun menolak kalo PNS bisa kaya, karena sejatinya menjadi PNS adalah menjadi pelayan rakyat. Tidak mungkin akan kaya karena memang gajinya hanya segitu-segitu saja. Kalo pun ada PNS  yang jadi super kaya, harus dan wajib dipertanyaakan darimana kekayaannya itu berasal.


Ia pun menghina dirinya sendiri dan menertawakannya dengan ikhlas. Ia setuju kalo memang bangsa kita ini bangsa babi. Ups, jangan tersinggung karena memang begitulah kenyataannya. Dulu kita berprinsip ; bersatu kita teguh, bercerai kita nikah lagi, eh salah, bercerai kita runtuh. Kini banyak orang yang lebih suka bercerai saja. Semua pada ngurusin masalah individunya masing-masing tanpa memperhatikan sesama saudaranya. Dan itulah sebab kenapa Endonesa tidak pernah maju hingga detik ini.


Cita-citanya dengan cita-cita ane hampir-hampir mirip ; sebelas dua belas lah kalo ane bilang. Mau mandiri, bermanfaat bagi orang lain, berdiri sendiri, dan untung-untungan kalo ditakdirkan jadi orang kaya raya. 


Lalu ane bertanya ; kenapa orang tionghoa itu begitu sukses? Dia menjawab dengan singkat, tidak usahlah membahas mereka, karena itu adalah hak mereka. Dan kita tak berhak untuk menanyakan hal itu lagi. Lho kok? Begini, jawabnya, karena sejak awal mindset dan pola pikir kita dan mereka berbeda. 


Bagi minoritas, kebersamaan adalah segalanya, dan pemhaman terhadap prinsip harta sangat dipegang. Harta dibawa mati bung, dan kita tidak berprinsip seperti itu. Salahnya adalah, kenapa kita masih mengungkit-ngungkit mereka. Padahal kita ndak ada hal sama sekali untuk membahasnya sedikitpun. 


Dia kasih contoh riil. "Oke, ente punya tanah, dan beranikah ente mensekolahkan sertifikasnya ke bank untuk modal buat usaha yang menurut ente bisa menghasilkan?" Dengan sadar ane jawab ; ndak mau. Dan itulah perbedannya. Sejak awal ane gak berani untuk mengambil resiko dan memperjuangkan peluang yang ada dengan menggadaikan hal terbesar yang kita punya. Ane lebih suka standar-standar saja berada di zona nyaman. Ya punya tanah, kerja lagi siapa tahu bisa beli tanah lagi. Begitulah kira-kira prinsip ane yang ane yakini sekarang. 


Dan ia pun menyadari bahwa dirinya juga bermental sama. Takut, pengen hasil besar tapi gak mau ambil resio besar. Maunya aman-aman saja, yang penting menjalnai hidup jadi orang normal. Normal yang gimana? Punya istri, punya anak, punya rumah, bisa mensekolahkan anak, untung-untungan bisa beli lebih dan menunggu kematian setelah itu. 


Ane jadi tergugat, ane jadi njingkat, ane macam jadi kayak kuda yang dipecut habis-habisan karena terlalu lama memamahbiak dan tidak pernah turun lapangan. Nasehat temen ane tadi begitu menohok. Ornag-orang yang sukses, jangan membahas mereka, karena mereka telah melaukannya. Membahas mereka dalam sisi positif maupun egatif adalah wujud iri dengki kita yang tidak bisa seperti mereka-mereka yang ktia bahas itu. 


"Orang kita ini lucu, maunya aman-aman saja, bikin proposal, ajukan dana ke orang lain, baru produk muncul", "Lha kenpaa gak bikn produk dulu, lalu marketingkan dengan benar?"


Ane makin terjingkat dan pengen berlari saja untuk segera melaksanakan apa yang jadi pemahaman ane malam itu. Pikiran ane menari-nari untuk instrospeksi diri dan menambah keberanian untuk melangkah dan mengambil tindakan. Kenapa selama ini ane nyaman saja di kandang, tapi gak pernah membuka pemikran untuk BERANi dalam mengambil langkah guna menyongsong masa depan yang ane inginkan.


BERANI itulah yang menjadi pembeda antara kita dan mereka. Maka tak usahlah membahas kesuksessan mereka karena itu adalah hal lumrah dan sunnatullohnya orang-orang yang berani. Bahasan malam itu membuat ane kagum. Pengen sekali menuliskannya, dan tatkala ane sampek rumah, ane ambil keyboard dan mulai menulis kejadian tadi.


Berani punya produk sendiri

Berani memarketingkannya dengan TMS (terstruktur, masif, dan sistematis)

Berani mengambil resiko

Dan segala keberanian lainnya.


Terima kasih kawan, malam ini, saya mendapat pencerahan.


Salam

Rabu, 27 Agustus 2014

Baru Kali Ini Makan Rasanya : Senang + Sedih + Lucu

Kemaren malam, ane menyediakan waktu buat berkunjung ke daerah deltasari. Tujuan ane kesana patent banget : jadi hamba perut untuk memuaskan nafsu lapar. Temen ane yang dulu pernah sekolah bareng dan sam-sama hobi main bola lagi buka rumah makan bertajuk : Bebek-Ayam Cahyo. Hmmm…bebek? Makanan yang satu ini sudah sangat umum di kawasan Surabaya. Kenapa kok ane katakan begitu? Simple aja : banyak warung serupa yang juga buka. Hal, ini menunjukkan kalo peminat bebek di Surabaya tergolong tinggi.

Oke, makanlah kita disana. Cuap-cuap sana sini. Dan kawan, restorannya tergolong bagus. Ruangannya bersih, pake AC, di kawasan yang rame, parker nyaman meskipun berbayar, pokoknya enak. Pas ane berkunjung, ternyata banyak juga pelanggannya.


Begini Cara Ane Supaya Update Blog : Semi Gratis Pula

Kata Mas Jayasetiabudi di bukunya yang super praktis itu bilang begini : otak bekerja seperti parasut. Nah, karena terhimpit, otak ane berkembang. Meksipun banyakan gak naik kelas dan sering pindah dari satu sekolah ke sekolah lainnya –terjalu jujur sih—ane coba itu buka otak supaya berkembang. Salah satunya adalah ketika ane stag dengan cara mengupdate blog. Think…Think…Think…dan Ting!!! Ada cahaya berkilauan persis banget dengan adegan almarhum Bokir di pilem-pilem jadul yang kebetulan terjadi saat babe ane mengupa menahan kantuk.

Ternyata dari beberapa list teman ane ada yang suka banget dengan menulis. Orangnya sih kasihan. Kenapa ane bilang kasihan? Jadi dia ini tipe orang yang sangat optimis. Keahliannya adalah mbacot melulu. Dia percaya bahwa kekuatan manusia itu dahsyat, no bounderies, gak ada halangan dan rintangan. Apapun bisa dilakukan asalkan punya kemauan. Dulu dia sangat suka fitness, dan pernah punya body yang mantap, tapi sekarang jadi gemuk lagi. Ia juga suka dengan entrepreneurship, tapi sekarang malah jadi pegawai. Ternyata, apapun yang diyakininya malah berbalik 180 derajat dengan apa yang diterima. Kasihan bukan? BUKAAAAN!!!…MAKASIH.