Mendedikasikan diri sebagai blogger pemula rupanya akan jadi perjalanan panjang. Dari sekedar hobi corat-coret lewat keyboard, sampai akhirnya timbul keberanian untuk memasangnya di depan umum. Dulu saya sering grogi, apakah sebuah catatan layak untuk di taruh blog apa ndak? Dan kini, ketakutan itu sedikti teratasi.
Ane katakan sedikit teratasi karena memang ane belum layak disebut sebagai blogger. Dibandingkan dengan nama-nama besar blogger Indonesia yang sudah makan asam-urat-pahit :) di dunia penulisan, ane hanya debu di tengah bongkahan gunung yang berdiri kokoh.
Rabu, 03 September 2014
Bagaimana Kondisi Ngeblog Sampeyan I ?
Ada kesalahan-kesalahan umum tatkala ngeblog booming. Ada anggapan blog setali tiga uang dengan tangga pemadam kebakaran yang mampu menghantarkan Anda dalam gedung kesuksesan tertinggi. Ia seperti cuap-cuap sirine yang menyuarakan kalo blogging itu bisa bikin orang cepet populer yang ujung-unjungnya dari semua itu adalah hal yang satu ini : UANG.
Ane juga salah satu orang yang terpana dengan fakta-fakta keberhasilan seorang blogger. Bahwa ada sebagian orang yang membuktikan diri bisa meraup hasil dari kegiatan ngeblog. Adakah jalan singkat? Internet yang meskipun melazimkan kecepatan sebagai bahasan utama, tetep saja jalannya tidak ada yang mulus. Ane pun kalo mencium bau busuk "cepat bin kaya" mula-mula saya tahan nafas, mengambil sapu, dan membuangnya ke jamban. Mirip kotoran yang tergeletak di depan halaman rumah.
Ane juga salah satu orang yang terpana dengan fakta-fakta keberhasilan seorang blogger. Bahwa ada sebagian orang yang membuktikan diri bisa meraup hasil dari kegiatan ngeblog. Adakah jalan singkat? Internet yang meskipun melazimkan kecepatan sebagai bahasan utama, tetep saja jalannya tidak ada yang mulus. Ane pun kalo mencium bau busuk "cepat bin kaya" mula-mula saya tahan nafas, mengambil sapu, dan membuangnya ke jamban. Mirip kotoran yang tergeletak di depan halaman rumah.
Selasa, 02 September 2014
Beberapa Perilaku Absurd Jamaah Haji Di Tanah Suci
Haji dan Umroh
adalah ibadah yang memiliki unsur journey yang sesungguhnya. Bepergian dari
satu kota ke kota lainnya. Jauh dari rumah dan hidup sebulan (atau beberapa
hari jika umroh) di negeri orang. Tentu pengalaman ibadah plus berwisata ini
terjadi saat agama Islam berkembang di belahan bumi non Arab. Mungkin bagi
orang Arab sendiri, yang nota bene adalah negeri dimana Islam muncul pertama
kali, berhaji ini mirip dengan “ziarah” wali songo. Mohon maaf kalo ane berkata
demikian, tapi dipandang dari kacamata geografis, antara makkah dan madinah
berjarak sekitar 490 km, itu mungkin hampir sama jarak antara Surabaya-Cirebon.
Memandang
haji/umroh dari sisi plesir saja tidak bisa dibenarkan. Sifat ibadah tetap
harus melekat di dalamnya. Plesir itu muncul karena memang jarak yang jauh dan
membutuhkan biaya. Ada biaya tiket pesawat disitu, penginapan, jasa bimbinga
saat tiba di tanah suci, belum lagi visa, paspor, dkk. Akhirnya jadilah
bepergian dari Indonesia menuju tanah suci menjadi berbiaya lebih besar dari
jenis ibadah lainnya.
Bagi pelaku “bisnis”
biro haji dan umroh, melihat pangsa pasar Indonesia yang nota bene berpenduduk
muslim terbesar didunia, boleh saja ngiler. Mengingat potensi ekonomi yang bisa
dihimpun sangatlah besar. Tapi ini bukan hanya urusan bisnis semata, ada
tanggung jawab moral untuk membimbing jamaah agar tahu bagaimana tata cara dan
perilaku yang ditampakkan saat sudah di tanah suci sana.
Kalo Duit Haji/Umrah Buat Membangun Negara Gimana?
Bicara masalah biro haji, Indonesia sebagai negara dengan
penduduk muslim terbesar di dunia adalah pasar yang sangat besar. Naik haji
memang sebuah kewajiban bagi mereka yang mampu, maka tak ayal, jamaah haji dari
Indonesia berbondong-bondong antri untuk ke tanah suci.
Beda haji beda juga dengan umroh. Kalo umroh dikatakan haji kecil soalnya disitu gak ada wukuf di arafah. Hukumnya pun berbeda, jika haji wajib bagi yang mampu, umroh adalah sunnah bagi mereka yang bisa menunaikannya.
Masalah mampu dan tidak mampu emang relatif. Ane katakan relatif karena parameternya sangat subyektif. Murah bisa berarti mahal, mahal bisa berarti murah. Ukuran mahal-murah adalah takaran manusia saja.
Beda haji beda juga dengan umroh. Kalo umroh dikatakan haji kecil soalnya disitu gak ada wukuf di arafah. Hukumnya pun berbeda, jika haji wajib bagi yang mampu, umroh adalah sunnah bagi mereka yang bisa menunaikannya.
Masalah mampu dan tidak mampu emang relatif. Ane katakan relatif karena parameternya sangat subyektif. Murah bisa berarti mahal, mahal bisa berarti murah. Ukuran mahal-murah adalah takaran manusia saja.
Senin, 01 September 2014
20 Hal Yang Mesti Ente Perhatikan Dari Biro Haji Dan Umroh
Salah satu cara ane mempromosikan
tiket lia adalah dengan berkenalan dan menghubungi kontak lama. Teman-teman,
kerabat, sanak saudara, saudara jauh, saudara barusan kenal, handai tolan,
orang di pinggir jalan yang gak berdosa apa-apa juga ane kontak. Biasanya model
macam gini indikasinya ndak baik. Stigmanya itu sudah memburuk. Kalo ente
tiba-tiba dihubungi teman yang lamaaaaaa banget ndak ketemu sejak dinosaurus
punah, pasti ente berpikiran yang macam-macam. “Jangan-jangan ini MLM? Gue takut…ngumpet sono! Atau pura-pura mati suri. RIP”.
Ane juga ngalamin kayak gitu.
Dikira agen rahasia penyebar MLM. Huh!..Ndak
salah sih, tapi itulah stigma buruk. Hidup segan, matipun tak mau. Label
sok-kenal-sok-dekat jadi agak ngeri sekarang. Jangan-jangan loe dekat sama ane
ada maunya? Ente bisa bayangin gak gimana tuh kelamnya keadaan orang-orang yang sudah hidup-matinya
digantungkan di MLM, kasihan juga jika mendapati realita bahwa MLM sudah
sedemikian parah. WOOII..bahasan dari tadi kok MLm doing? Wowke….Back to topic.
Jadilah ane ketemu sama juragan
travel haji yang juga kakak kelas ane. Lokasinya di Embong Malang Surabaya. Ane
bicara sama dia kalo tiket ane mau ane kembangin ke level dewa. Kalo ndak dewa
ya ndak papa, setengahnya aja kayak lagu Iwan Fals : dewa setengah manusia??
Tiba-tiba tayangan mahabarata kayak nongol begitu saja.
Ane jadi inget pas dulu
ngelayanin kakak kelas ane tersebut. Ane nawarkan diri (bukan ngejual diri yak)
buat bantuin kalo angkut-angkut barang ke bandara. “Gimana kang bro…ada yang bisa dibantuin tha, angkut koper ke bandara
gak papa,” kata ane sambil mengiba. Wajah kakak kelas ane itu langsung
blingsatan, kege eran paling kok hari gini ada yang nawarkan diri buat bantuin.
Oh Tuhan, jaman segini masih ada juga hamba-Mu yang terbuka hatinya buat
ngebantuin para jamaah. Mulutnya menganga mau bicara tapi segera ane cocor
dengan omongan yang baru. “Tapi ane tariff
yak, gak pake argo kok, harga jauh di bawah taxi,” lanjut ane. Wajahnya
spontan nyengir. Geleng-geleng kepala macam orang nahan ke jamban selama 48
jam. Wal-hasil hari itu juga, ane dapat orderan ; jadi sopir pick up ngakutin koper jamaah umroh ke
Bandara Juanda Surabaya. Alhamdullah, rejeki emang gak kemana, meskipun cara
ane sedikit kasar, but, ane emang benar-benar mentok waktu itu.
Langganan:
Postingan (Atom)